Selamat Pagi Matahari
Hampir pukul 5 pagi di selatan Jakarta. Aku terburu-buru menaiki tangga. Tangga ini sepertinya memang jarang digunakan semenjak mereka atau maksud nya adalah aku, jatuh cinta pada mesin bernama Lift. Tentu saja kali ini aku tidak mungkin menggunakan lift. karena apa? karena lift utama berada di lobby lantai satu dimana pintu lobby sepagi ini belum dibuka ditambah lagi jika aku harus menggedor seperti orang gila, aku mesti memutari gedung besar beserta pelatarannya seluas hampir 5 hektar. Tidak, terimakasih. Dan tangga ini berada di belakang gedung dan meskipun dengan itu aku membayarnya dengan berlarian. 8 lantai lagi dan sekarang aku terburu-buru.
Kenapa aku terburu-buru? Padahal biasanya jam 8 pagi aku baru masuk ke basement untuk memarkir motorku. Dan sekarang pagi-pagi sekali aku sudah berlarian menaiki tangga menjengkelkan ini. Untung aku sempat memakai sepatu kets lamaku, agak sempit. Aku jadi mulai berpikir kapan terakhir aku memakainya ? Ya Tuhan, bahkan aku sudah lupa kapan membelinya. Ok, sepatu sport akan jadi salah satu prioritasku tahun ini melihat betapa bergunanya dia sekarang.
Dan mengapa aku malah memikirkan sepatuku, aku melirik jam tanganku. 05.08. 4 lantai lagi dan nafasku sudah di ujung hidung. Keringatku sebesar biji jagung membanjiri piyamaku. Whatt??? Piyama? aku sempat memakai sepatu kets tapi aku tak sempat berganti baju. Satu lagi kebodohan di pagi hari. Whatever lah. Tunggu, 2 menit saja aku mengatur nafasku. Namun ketika aku melihat ke atas, Tidaaakkk!!!
sebelumnya atau kira-kira 5 hari yang lalu.
Sore selepas hujan. Aku ambil bungkus rokokku dari laci mejaku. Sandal atau sepatu ? Dan aku melirik ruangan gelap di sebelah. Sandal. Orang jepang itu udah pergi dari selesai makan siang tadi. Artinya aku aman-aman saja berkeliaran dengan sandal jepit kuning cantikku ini. Toh sudah jam pulang kantor. Mereka tidak bisa memecatku hanya karena aku memakai sandal di luar jam kerja. Benarkah? aku yakin aku menghibur diriku sendiri. Aku membelinya di Bali setahun yang lalu seharga 20 ribu. Warnanya kuning manis, dengan manik-manik pada karet jepitnya dan di ujungnya menempel bunga kamboja palsu berwarna hijau.
Orang-orang mulai berpamitan ketika berpapasan denganku. Aku mesti menunggu mereka benar-benar keluar dari lift sebelum akhirnya aku melangkahkan kakiku masuk ke ruangan sempit itu. Sendirian. Tombol Lantai 15 menyala dan pintupun tertutup. Dan untuk 7 lantai keatas, mereka akan mengurungkan niatnya memasuki lift setiap melihatku. Bukan karena tidak suka atau benci. Tapi karena aku Naik dan mereka Turun. Aku Ingat setahunan yang lalu ketika aku mulai melakukan rutinitas melepas sore. Aku harus berkali-kali mengatakan aku akan naik ke lantai 15, lalu mereka akan mundur dan membiarkan pintunya tertutup lagi. Sampai akhirnya mereka terbiasa dan memilih menunggu pintu lainnya terbuka dan Turun.
Namun ketika pintu lantai 13 terbuka, seseorang tetap memaksakan masuk. Saya naik.
“Ok, tidak masalah” Senyumnya menghiasi wajahnya yang tampan.
Terserah anda. Dan kami terdiam. Aku mulai kembali dengan lamunanku ketika tiba-tiba dia memulai pembicaraan.
“jadi kamu yang selalu naik ketika semua orang Turun?” Tanyanya
Yup, Cukup menyindir jika pertanyaan itu jika bukan dalam arti sebenarnya. Aku sedikit menyunggingkan bibirku untuk sekedar memberi kesan sopan.
“Its ok kalau saya ikut?” dia memamerkan gigi-gigi putihnya, seolah memohon. Terserah kamu, bukan aku pemilik gedung ini.
Aku keluar menuju atap gedung, laki-laki itu mengikuti aku. Ada perasaan was-was di benakku. Akhir-akhir ini aku dengar surat kabar harian yang selalu memberitakan macam-macam kriminal terutama tentang pemerkosaan di halaman depannya, halaman beritanya semakin banyak. Dan jika laki-laki ini berani macam-macam denganku,
“jangan takut, aku tidak bermaksud jahat dengan kamu” Dan seperti menjawab tatapan curiga ku, aku hanya bisa tersenyum. Aku tetap mengambil besi pendek berdiameter kurang lebih 7cm sisa matrial yang aku temukan kemarin. Aku menyimpannya dibawah tangga menuju atap. Untuk jaga-jaga.
Dia terkekeh. “terserah kamu”
Aku sudah mencium bau Malam. Dibawah sana aku yakin sedang terjadi kebisingan lalulintas. Aku tidak peduli. Dan sekali lagi, meskipun bulan masih tertutup awan sisa hujan. Selalu dan sepertinya akan selalu.
SELAMAT MALAM BULAN.
Aku hirup asap rokokku, mau? Aku menawarkan pada laki-laki itu. “Thanks.” Dia mengambil sendiri rokok di saku kemejanya. dan mulai menghirupnya.
Namaku bre. Aku di lantai 8.
Kami bersalaman. “Aku Dani. aku di lantai 13” Dan kami tertawa. terdengar menyeramkan, lantai 13. Spooky floor. “banyak yang bilang begitu” seolah membenarkan perkataan orang-orang tentang lantai 13.
“anyway, kamu pernah menyapa Matahari?” aku terdiam “aku beberapa kali menyapanya ketika bosku yang kejam itu memaksaku lembur”
Tidak, Tidak pernah. Aku sudah cukup dengan bulan. “Kamu harus mencobanya, sambutlah matahari. Dan berbagilah cinta dengan bulan”
Aku belum pernah mendengar ide segila itu, berbagi cinta dengan bulan. Lalu dia mulai berceloteh tentang warna, udara, Rasa, dan entah apa itu. Memikirkannya saja aku tidak berani, aku akan disebut berkhianat, pembangkang, pemberontak jika sampai melakukan itu semua
“Maka jadilah seorang bre yang hidup diantara malam dan Pagi. Berbagilah, kamu memang milik malam. namun kamu juga bisa mencintai pagi. Cobaah hidup.”
Aku turun. “Heiiii…. 5 hari lagi aku mungkin menyapa matahari. Datanglah”
Sekarang.
Dan jika bukan karena peristiwa itu, aku tidak mungkin tidak memikirkannya. Semakin aku memikirkannya, maka semakin gila aku. Dan buktinya sekarang aku sedang bersusah payah menaiki tangga sialan ini. Sedikit lagi. Aku sudah melihat senyum mengejeknya dari atas sana. Nyaris jatuh. Dan…
SELAMAT PAGI MATAHARI.
Kuucapkan juga. “Kamu nyaris terlambat” Aku tidak mendengarkan kata-katanya. Aku masih sibuk mengatur nafasku. Aku tertawa lepas, aku menari. Aku sama sekali tidak peduli dengan baju piyamaku atau sepatu bututku, aku tidak peduli wajahku seperti kepiting rebus dengan rambut berantakan. Aku sama sekali melupakan aku dan siapa aku. Aku pemula, mengenal Matahari.
Aku sedang menikmati pagi. Tidak ingin terganggu. “bagaimana rasanya”
Rasakan sendiri nikmatnya
____________________________________________________________
terimakasih untuk sebuah lecutan hidup yang memulai ini semua
jakarta, 2011

Horeeeeeeeee…. blog baruuuuu.. Mari diacak-acak! =))
Welkom.. Welkom, khusus bumil silahkan.
Tetap semangat pagi yang cerah :)
Makasih mbak, semangat juga! !
Selamat pagi?? Wes bengi mbak *jitak mb brencia*
Matahari-ku buka jam sembilan…….masih pagi juga kan…?
Lha ya mampir kok bengi2 to say..
Gek akeh diskonan ra?
sekarang sudah malam, matahari sudah tenggelam
wih.. apiiik
kenalan mbaaaak…. uapik pol mataharine
mampir…mampir…mampir :)
jualan lagi hihihi
Masih ada hari besok :))
Wow demange teko duh lali pasang tratak aku.
*salaman*
maturnuwuuun :))
Jiah mbak lidya buka lapak disini.