
Rabu Tergesa-gesa
Selamat Pagi Matahari.
Aku mulai memperhatikan mereka, ketika aku memutuskan berteman dengan Matahari. Dua gadis berjalan beriringan. Sepertinya mereka kembar, meskipun tidak telalu identik. Tinggi mereka sama kira-kira160 cm. Mereka mengenakan baju abu-abu, mungkin anak tetangga di daerah sini. Kulit mereka kecoklatan, wajarnya anak sekolah yang kemana-mana menggunakan sarana umum sebagai tumpangan kemana mereka pergi. Yang satu berambut panjang sebahu, satu lagi pendek ala rambut BCL yang ternyata masih menjadi tren di tahun 2011 ini.
Mereka sedang menertawakan sesuatu, si rambut panjang menunjukan sesuatu dari handphone nya. Dan mereka tertawa bersama.
“si Kevin nekad nih, kayak ngga ada cewek lain di sekolah.” Si rambut panjang mengungkapkan keheranannya.
“karena lo emang pantes. Apa salahnya, lo cakep, pinter pula” si rambut Pendek mengungkapkan pembelaannya.
“gw tau reputasi dia gimana, banyak cewek yang ngarep sama dia, lagipula gw ga yakin dia tulus”
“lo terlalu berprasangka”
Aku diam mendengarkan obrolan sembari lewat mereka dari balik pagar rumahku. Si rambut panjang tidak menyadari keberadaanku, namun si rambut pendek sekilas aku merasa dia melihatku dan tersenyum.
20 menit kemudian ketika aku melajukan mobilku, sepintas aku melihat si rambut panjang menaiki sebuah angkot. Sendirian.
Kamis Gerimis
Semalaman hujan menguyur, aku hanya bisa mengucapkan salam pada bulan dari balik awan mendung. Aku juga merindukanmu bulan. Sangat merindukanmu. Dan pagi ini gerimis memberi warna baru pada matahari. Biru Kelam.
Aku sudah melihat mereka dari kejauhan ketika aku meletakkan kantong sampah di tempat sampah di depan rumahku.
“beneran dia pernah cerita sama gw kek gitu” si rambut pendek menimpali.
“lo tau anak mana itu?” sepertinya si rambut panjang tidak bisa menutupi keingintahuannya.
“anak SMA **, gw jg ga kenal. Itu kata dia, ada jg anak SMA * . Itukan di Jakarta-sebelah-entah-gw-ga-tau” si rambut pendek tertawa.
“berarti dia mo maenin gw gitu?” si rambut panjang terdengar menyesal dari kata-katanya
“ga tau jg, secara gw jg ga tau banyak siapa dia. Mungkin nggak.
“tapi kan kata lo di…..” mereka semakin jauh. Dan aku tidak mendengar percakapan mereka lagi.
Pagi itu aku melihat si rambut pendek yang menaiki angkot. Sendirian.
Senin Kepagian.
Aku ada janji dengan Dani si lantai 13 untuk menyapa Matahari bersama. Dia tidak ada lemburan sebenarnya, hanya beberapa minggu ini kami semakin dekat. Dia banyak bercerita tentang matahari, dan aku menceritakan Bulan sepanjang yang aku tahu. Dan pagi ini yang sebenarnya masih gelap, aku mesti terburu-buru. Perjuangan menuju atap lebih mudah semenjak dani mengnalkan aku pada lift barang yang berada di samping gedung dekat dengan parkiran. Bodohnya aku kenapa dulu tidak terpikir olehku.
Tapi ketika aku membuka pintu pagarku, aku melihat mereka mendekati. Sepagi ini??
“Gw benci kalo ada pelajaran jam ke-0, kita kan masih kelas 2” si rambut panjang menguap panjang.
“sama gw juga sebel, dan kenapa juga papa pake acara ke Surabaya” si rambut pendek sedikit mengerucutkan bibirnya.
“eh, lo tau ga? Kevin tar ngajak gw makan siang bareng di kantin.”
“apaa?? Ga salah lo.. reputasi lo gimana? Lo ga takut bakal dijauhin sama anak-anak? Mereka kan musuhan!!”
“tau ah, gw jg bingung. Mungkin gw…..”
Aku tidak memperhatikan mereka lagi. Aku harus berangkat. Dani menungguku diatap sana. Semoga pagi ini bercerita tenatang sesuatu yang baru, aku bosan dengan cerita burung hantu.
Dari spion tengahku aku melihat mereka berjalan berdua, rambut mereka sama panjangnya. Ah ini mungkin hanya lampu.
Kamis Tidak terduga.
Dari balik jendela kku melihat si Rambut panjang berjalan dengan seorang laki-laki-. Tidak terlalu tinggi. Aku tidak bisa mendengarkan pembicaraan mereka. Dan aku tidak melihat si rambut pendek. Kemana dia?
Si rambut panjang seperti terlihat malu-malu.
Jumat Menjawab.
Jam 14.30 an, aku ijin pulang cepat. Badanku sedang tidak bersahabat sekali. 5 hari ini pekerjaan kantor harus aku bawa pulang. Dan semua itu tanpa aku sadari menguras energiku. Tadinya dani menawarkan mengantar pulang, tapi aku menolak.
Ketika aku memasuki belokan menuju rumahku. Bersamaan aku melihat dua gadis yang beberapa minggu ini menjadi salah satu warna di pagi ku. Segera ku percepat jalan mobilku, aku agak penasaran dengan mereka. Mungkin sebaiknya aku menyapa mereka. Toh mereka sering lewat depan rumahku.
Aku pura-pura akan menutup pagar ketika si rambut panjang melintas.
“Lho kok sendirian dek? Sodara kembarnya mana?” sapaku sambil tersenyum.
Dia menjawab, “ Eh, iya kak sendirian. Sodara siapa ya kak? Aku selalu sendiri kok.” Dia menghentikan langkahnya. Aku bisa mengamati wajahnya dengan jelas sekarang, AYU. Itu penilaianku tentang gadis itu.
“Lho yang tiap pagi berangkat sekolah sama kamu siapa dong?” Aku mulai penasaran.
“Saya berangkat sendiri kok kak. Kok kakak bisa bilang aku sama sodara kembarku. Aku kan ga punya kak, aku ini anak tunggal. Kakak serem ah…” Dia tertawa renyah menggodaku.
“Masa? Oh, mungkin aku salah liat kali”
“iya kali kak. Permisi ya kak, saya pulang dulu.” Gadis itu melanjutkan langkahnya.
Ketika aku selesai menutup pintu pagarku, gadis itu sudah melewati 2 rumah di sebelah rumahku. Aku melihat mereka berdua, si rambut panjang dan si rambut pendek.
Saat aku mengalihkan pandanganku, aku seperti yakin sekali si rambut pendek menoleh kepadaku dan tersenyum. Seketika aku menyadari apa yang terjadi.
Matahari telah memberi tahu aku sebuah pelajaran baru.
Salam kenal buat adminnya :D
Nanti disampaikan :)
jadi penasaran siapa sih adminnya..
kenalan dunk
:p
Pokoke admine keren bgt.
Seketika aku menyadari apa yang terjadi.<— opo sih sebenarnya yang terjadi..? Masih saja bingung diriku…(doh)
mengko nek terus moco neng kene ono jawabane
mbak saya kok bingung… jadi critanya gimana nih… huhu penasarannnn
matahari yang selalu indah :D
Udah di dm by twit yah say,
Iya mbak, selalu indah. :p
Salam kenal pak mars :)
Ah, bre… akukan jadi malu :D