Petir bergulung-gulung diatas langis, memekik kan nada-nada heavy metal. Tuhan memang Maha Rock N Roll. Maaf kita sedang tidak di nada yang sama Tuhan, lebih baik aku sembunyi dibalik selimut. Berdoa, semoga, rumah kecilku tidak rubuh. November memang semakin dingin, namun tetap suasana hati masih panas meranggas. Musim menikah dimana-mana, ditambah tahun ini november punya hari berbeda. 11-11-11. Entah doa, entah mistik mereka banyak berbaris diantrian menikah dan operasi sesar. Pernikahan, dan pikiranku langsung terbang ke salah satu cerita cinta, Ed dan kehidupan pernikahannya.
Dan, rasakan degup jantungku. ini perasaan bahagia, ini juga was-was.
“Easy darling.. relax…”
—0000—-
Pernikahan kami sudah menginjak tahun ke tiga. Aku dan Ed. Pasangan ajaib abad ini, aku wanita dan suamiku gay. Tulen dan bukan rekayasa. Tidak ada yang tau bener-bener orientasinya selain aku dan Tuhan. ups, ada juga Alex. Pria dari masa lalunya. 3 tahun sudah semenjak kami memutuskan bahwa pernikahan ini adalah salah satu mukjizat yang kami dapatkan. aku dan tentu saja sahabat baikku Edward. Dan apakah aku bahagia..??
Tentu saja aku bahagia, hidup bersama dengan orang yang paling aku cintai, sekaligus partner terbaik dalam hidup ini. Aku tidak ingin suami yang lain. Dia yang terbaik. Lagipula, ed baunya enak.
Dan kami masih menempati apartment yang sama, sofa yang sama, kebiasaan sama setiap sebulan sekali, “sabtu gila”. Dan Sabtu gila kami biasanya diakhiri dengan pelukan di ranjang. Aku dengan kemeja raksasanya dan dia dengan tanktop ketat.
“udah bangun sayang?” Ed mencium keningku sebelum dia beranjak dari tempat tidur kami.
Aku menyipitkan mata melihat jam weker di pinggir meja. Nyaris jam 8 pagi. Thanks God It Sunday, dia masih tampan seperti pagi-pagi kemarin. Aku semakin menarik selimut ke atas kepalaku.
“ini istri apaan.. ga bangun juga, males banget!!” Ed mulai memainkan jari-jarinya di tempat-tempat sensitifku, kelitikannya ga akan berhenti sebelum aku membalas perlakuannya.
“dan kamu ini suami apaan, kok bangun duluan dari istrinya” Aku tertawa dan terus membalas perlakuan Ed. Sebelum akhirnya aku lari ke kamar mandi sambil terbahak-bahak. Pagi yang menakjupkan.
“hari ini kita jadi ke rumah mamah say?” Aku setengah berteriak dari kamar mandi.
“Boleh, aku beli sarapan dulu ya sekalian mau beli rokok. Dan woww…” Ed bicara sambil sedikit memasukkan kepalanya dari balik pintu.
Aku tertawa, sudah ribuan hari dia melihatku mandi, dan ekspresinya selalu sama. Kagum dan memuji. Yah hanya sebatas itu dan ga bikin aku tersiksa. yaah cinta adalah ketika kita bisa menerima seseorang benar-benar apa adanya.
Jam sebelas siang, tapi jakarta sudah sangat menyengat. Dari apartment kami menuju rumah orang tua Ed sekitar 1,5 jam perjalanan. Orang tua Ed akhirnya hijrah ke Jakarta. Bukan jakarta persisnya tapi selatannya Jakarta. Biasanya ini kami lakukan sebulan sekali, dulu awal-awalnya hampir setiap minggu kami mengunjungi mereka. Namun semenjak pertanyaan ”kapan punya anak?” jadi pertanyaan wajib, kami memutuskan untuk mengurangi intensitas pertanyaan itu.
Sudah banyak rekomendasi minuman herbal atau jamu-jamuan dari teman-teman, kata mereka minuman herbal yang mereka berikan bisa memudahkan memiliki anak. Yang paling sering adalah mamahnya Ed, beliau seperti memiliki hobi baru, yaitu mengoleksi kartu nama dokter kandungan. Bahkan hingga pagi tadi sebelum kami berangkat mama sempat menelpon.
“kalian nanti jadi kerumah kan?”
“iyah mah.. ini kita mau berangkat” ed menjawab telpon mamahnya
“ok, mama tunggu. mama kemarin dikasih kartu nama dokter faisal. Dia dokter Kandungan di Rumah sakit di bekasi. kata temen mama, 2 keponakannya yang seperti kalian bisa cepat punya anak. tidak sampai 2 bulan katanya”
“iya..iya maa nanti kami coba kesana” Ed memutar bola matanya wajahnya tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
Aku hanya bisa memeluk dia dari belakang, aku mengerti bagaimana semua ini malah menjadi beban kami akhirnya. Ketika anak yang sama-sama kami inginkan tidak bisa kami wujudkan, kami bisa menerimanya. Akhirnya ikhlas, namun ini malah menjadi beban ketika anak adalah keinginan banyak orang, tidak cuma kami saja. Seperti hutang bahwa kami harus memiliki anak untuk orang-orang yang juga menginginkan anak dari kami.
Mama pernah menyeret kami ke dokter kandungan (yang tentu saja dari rekomendasi teman-temannya), hasilnya aku normal dan subur, Ed juga sama, normal dan subur. Masalahnya bukan soal siapa dokter kandungannya, minuman herbalnya, atau salah satu diantara kami ada yang mandul. Masalahanya adalah bayi bisa ada dari hubungan biologis pria dan wanita. Dan itu satu-satunya yang belum pernah kami lakukan.
Bukannya kami belum pernah mencoba, tahun demi tahun kami mencoba. Pernah kami mencoba berciuman, di salah satu malam Sabtu Gila kami. Aku menciumnya, menikmati tiap mili bibirnya, menikmati setiap hembusan nafasnya, aku menikmatinya. Dan dia hanya bisa diam seperti patung, airmatanya mengalir begitu saja. Dan aku berhenti. Atau misalnya dengan mencoba ketika dia “turn on in the morning”, dia malah menangis sesenggukan, kami menangis sesenggukan. Gagal. Atau misalnya dengan bantuan “gay movies”, hampir berhasil.. sampai akhirnya aku yang memutuskan berhenti dan menangis di bawah pancuran seperti di sinetron-sinetron. Dia suamiku, aku istrinya. dan Aku manusia, bukan boneka sex.
Suatu hari nanti kami percaya kami bisa menemukan jalan keluarnya, aku percaya Tuhan tidak pernah tidur. Dan selama kami belum menemukan jawabannya, kami hanya bisa tersenyum menjawab semampu kami pertanyaan orang-orang yang memiliki keinginan sama seperti kami.
——
Aku masih Ingat sekali hari itu, 2 hari sebelum ulang tahunnya. Kami makan malam di sebuah Rumah Sushi di daerah tebet, waktu itu kami sedang menertawakan ikan salmon di meja kami. Sebelum seseorang menepuk pundaknya, malam sebelumnya aku bermimpi matahari tidak pernah terbit lagi.
“Ed,..” suaranya sangat tidak asing bagi kami. seperti petir disiang bolong.
Otomatis kami melihat pria itu. Dan kami melongo, kaget tidak menyangka akan bertemu dia lagi. Alex. Pria terbaik Ed semasa hidupnya. Pria yang ada di salah satu fase hidupnya, yang menjadikan fase hidupnya itu seperti alunan musik surga. Kebahagiaan ada di setiap aura wajahnya saat itu. Fase hidup itu juga yang membuat Ed hancur berkeping-keping setelah terbang menari di indahnya Gelora cinta. Alex yang dulu sangat menyenangkan, lucu dan menjadi bagian hidup kami. Dan sekarang entah mengapa sekarang aku seperti sangat ingin merewind kejadian itu, bahwa kami batal makan sushi di sana.
“kok pada bengong sih, apa kabar kalian ?” Alex menarik kursi lain dan ikut duduk di meja kami. Aku melihat Ed agak sedikit gugup tapi aku sangat yakin matanya berbinar, dan aku masih mengenali mata itu. sama seperti dulu, ketika mereka berciuman di depanku.
“baik lex, kamu gimana? sendirian?? masih inget cita kan..”
“mana mungkin aku bisa lupa wanita cantik ini, kalian berdua. Dan kalian menikah??” Alex tertawa ringan lalu dia memegang tangan kami berdua.
“yeaah.. kami menikah lex, siapa sangka coba, aku mau menerima lamarannya homo. apalagi homo setampan suamiku ini” Aku meledek suamiku, dan suamiku membalas dengan membelalakkan matanya. Kami bertiga tertawa, sama seperti dulu saat kami saling melempar bantal. Ringan, tanpa beban.
“kalian ga berubah dari dulu, masih sama gilanya” kata alex
“iya lex, wanita ini terlalu menggoda untuk dinikahi, lihat saja wajah sensualnya itu, setiap laki-laki pasti berharap jadi suaminya, bodohnya dia malah mau nikah sama homo” Ed lalu menoyor kepalaku. “kamu gimana lex, mana istrimu? maaf aku ga bisa dateng waktu itu ke pernikahanmu.”
“hahahahahha kami udah divorce setelah 10 bulan menikah. Dia ga tahan hidup dengan gay seperti aku. dan beruntungnya kamu ed, istrimu luarbiasa”
Aku dan Ed saling bertukar pandangan.
“kamu tau alex, aku juga mendapatkan suami yang luar biasa. luar biasa aku mencintai dia, sampai aku lupa suamiku gay”
lalu kami diam, sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Dan Ed, dia bodoh kalo aku tidak melihat salah tingkahnya, atau melihat binar-binar rindunya. Aku ke toilet sebentar, dan ketika kembali aku melihat Ed menyeka air matanya, Ed menarik tangannya dari genggaman Alex.
Setelah malam itu, Alex kembali muncul di ruang keluarga kami. sekedar main, numpang makan atau ikut lagi masuk ke rutinitas bulanan kami. Pizza kembali menjadi 2 loyang besar, tubuhku nyempil diantara mereka berdua, dulu Ed memeluk Alex, sekarang Ed memeluk aku. Dulu Ed akan tidur di kamarnya dengan alex, sekarang alex pulang dan Ed tidur denganku, memelukku hingga pagi.
Aku pura-pura tidak pernah tau bahwa ketika Ed memelukku, mata mereka saling mengatakan mereka masih saling mencintai. Atau ketika sesekali Alex menginap di rumah, diam-diam Ed menyusulnya. Dan sebelum pagi kembali memelukku. Ed berselingkuh dibelakangku atau lebih tepatnya aku membiarkan dia melakukan itu semua.
Mereka tidak pernah mengatakan mereka kembali berhubungan. Karena sekarang mereka tau, aku juga sangat mencintai Ed, seperti tanpa bisa dilihat, Ed sudah terikat tali denganku. Dan tali itu adalah janji kepada Tuhan. Ed tidak akan mendahulukan Alex dan memilih menemani aku nonton di twenty one. Meskipun sebenarnya selama di dalam bioskop, ed lebih asyik bbm an dengan Alex. Karena aku, karena aku Ed berbohong. Karena aku, dan aku benci sekaligus marah dengan kondisi ini. Aku sakit.
Menangis lelah aku lakukan, 4 bulan berjalan dan aku malah merasa aku sendiri, kesepian. Aku memiliki tubuhnya tapi tak berada sama sekali di pikirannya. Aku harus memutuskan.
5 November 2011. Aku mengemasi barang-barangku, aku memutuskan pergi.
ED pulang dari kantor, aku beranjak dari tempat dudukku. Seperti biasa Ed mencium pipiku.
“laperrrr say, laperrr,.. ga sempet makan siang tadi. kamu masak apa?” Dan Ed langsung tertegun melihat 2 koper besarku. ” mau kemana?”
“Pergi ed, aku harus pergi. Aku menyerah pada perang ini, aku menyerah. Aku kalah perang”
“perang apa sayang, kamu kenapa sih”
“kita ga mungkin berhasil melewati pernikahan ini. Seberat apapun cobaannya aku coba jalani ed, tanpa anak, tanpa sex, gunjingan orang, tanpa cinta ed… aku bisa karena aku mencintai kamu lebih dari apapun. Dan aku ga pernah menyesali menikah denganmu. tapi tidak untuk berbagi lagi dengan alex. tidak, ini menyakitkan ed, lebih menyakitkan daripada semua hal buruk itu”
“cita, kamu tau kan aku gay. kamu tau kan aku gay, dan alex.. kamu tau kan siapa alex. dia…” Ed tidak mampu melanjutkan kata-katanya.
“AKU GA PERNAH LUPA KAMU GAY ED..SUAMIKU GAY. DAN APAKAH AKU MENYESALI MENCINTAI SUAMIKU YANG GAY?? NGGAK ED.. ENGGAK!!!”
“lalu jangan pergi cit..”
“MAU KAMU GAY MAU KAMU NORMAL, TAPI KENAPA KAMU GA BISA JADI LAKI-LAKI SETIA ED, PERNIKAHAN INI BUKAN MAIN-MAIN. KAMU PIKIR KARENA AKU MENERIMAMU SEBAGAI GAY, DENGAN MUDAH KAMU MENGKHIANATI PERNIKAHAN INI?? KAMU TAU GA ARTINYA SETIA SAMA PASANGAN?? KAMU TAU??”
“ngga ed, kamu ga tau… alex terlanjur menjadi segalanya. aku harus pergi, ed.. berpikirlah, mana yang pantas kamu perjuangkan untuk hidupmu. Pernikahan kita atau alex? dan sebelum kamu menemukan jawabannya, aku mundur ed. Aku mencintaimu, sekaligus yang paling pencemburu. Aku ga mau mati disini sayang..”
[sekarang]
Pagiku dingin, tak ada lagi yang membangunkan pagiku. kegilaan-kegilaan itu berhenti. aku hidup “normal”, normal entah menurut siapa. Yang kutau, hatiku terbelah dan sebagian belahannya hanyut. 17 hari, 9 jam,41 menit. Aku kosong tanpa dia, suamiku. Aku seperti layang-layang putus, menunggu kemana angin membawaku.
Ed belum memutuskan, aku masih menunggu. dengan sisa-sisa harapan yang aku punya, meskipun hanya sebesar biji sawo, aku masih berharap. Ed memilih aku.
[selesai?]
Woooowww…. merinding disko deh bacanya :D
salam kenal :D
anw aku juga udh baca yg versi pertama, duluuuu banget :)
hmm…ckupo getir juga jika menjadikan ini sebuah kenyataan, pahit tentu pahit untuk Ed, terlebih istrinya cita….dan yang paling bisa kuambil hikmah dari cerita ini adalah “Kesetiaan” :)
-Salam Hangat-
woooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooowwwwww…. seperti sebuah kisah nyata…
hmmmm, just like novel…
……di dua in sakit banget;..huhuhuuuu…….
bagus bgt nulis nya;..pelaku asli nya mana tuh?….
Wooww…. two thumbs up..
Tidak dapat di pungkiri kehidupan di kota-kota besar saat ini, tidak jauh berbeda dengan apa yang di gambarkan dalam cerita ini… Like..
Hai darling… thanks udah komen. aku tau ini kamu. :D *peluk*
Susah ya mas setia itu… :D
wkwkwk fiksi om…
wah mesti di amini nih… AMIINNN.
pelakunya semua asli ga ada yg palsu. cuma ceritanya aja yg fiksi :D
eh gitu ya… hahahha
HURTS :(
wuaah…:( ini nyata fiksi ato piye mba yu… aah..tapi apapun itu menyentuh banget ini tulisannya…
wah, keren beruntungan Edward memiliki Cita.
Wowwww, kren bgtttttttttt,,, penulisnya keren, sukaaaa bgt
ini isi artiklenya so sweet bgt sih..
wkwwk
Mbak..bagus banget ceritanya. Ayo dilanjutin lagi..masih ada kan bagian ke-3-nya?
Baca cerita ini dari yang pertama sampai yang sekarang ini, serasa baca kisah diri sendiri deh. Kisahnya serup tapi tak sama, karena saya juga jatuh cinta sama seorang laki-laki gay.. Saya ngerti banget nih perasaannya si Cita, soalnya lagi ngalamin banget. Tapi saya belom sampe tinggal bareng sih, soalnya masih sama-sama kuliah hahahaa.. Lanjutin dooong ini. Biar saya gak berasa sendiri lagi ngalamin hal yang kayak gini :’D
gw tau banget perasaan istrinya.., tapi kalo gw jadi Ed mending bunuh diri deh daripada suruh milih.., kaya suruh bandingin enakan mana Apel apa Mangga, 2 hal berbeda yang ga bisa dibandingin..
btw ceritanya bagus banget !! dah lama nunggu cerita” kaya gini.. lanjutin dooong >.<