Seperti digerakkan oleh semesta, aku bertanya dan melangkah menuju satu pohon buah mengkudu berbuah lebat yang hidup nyaris meranggas jika musim hujan tak datang di padang ilalang. Dia tumbuh sendiri berteman rumput tinggi pendek hijau menguning dan serangga semacam capung. Belalang, Semut bisa jadi juga beberapa tikus tanah, cacing-cacing yang bertumbuh pesat semenjak tanah mereka menjadi gembur. Mungkin ada kalajengking, mungkin ada ular dan bisa jadi dibalik rimbunan ilalang tinggi pendek hijau menguning. Beberapa bunga liar menyembul dibalik mereka.

Aku diam tertegun menatap  sebuah pohon mengkudu menjulang, jaraknya 15 meter dihadapanku. Tanpa jalan setapak atau seseorang yang menuntunku menuju pohon itu. Kegelisahan merayapi nadi-nadi membujuk sebuah keinginan melangkah menjadi berbalik dan pulang.

Bagaimana jika karena ketakutan luar biasa seekor kalajengking mini, lalu melihatku yang nyaris menggilas tubuhnya secara reflek menancapkan capit beracunnya dari bawah ilalang di jempol besarku. Jika itu hanya seekor, bisa jadi dua, tiga, empat, atau bisa jadi di balik ilalang yang rimbun itu ada kerajaan kalajengking.

Bagaimana jika seekor laba-laba besar hitam yang tidak berhenti menatapku sedari tadi aku mengamati pohon itu. Laba-laba itu seolah merencanakan rencana besar akan menjeratku dengan gulungan benang-benang jaring ringannya.  Lalu dia akan merayapi kaki dan tubuhku. Bukan seekor tapi dia dan teman-teman satu genknya. Aku mungkin akan berteriak mati-matian sambil lompat dan menarikan tarian pemanggil hujan.

Bagaimana jika seekor ular yang terpendek kecilpun diam-diam mengendap naik dibalik celana jinsku. Melilitkan tubuhnya yang kemudian membuat patah tulang kakiku. Atau kalau sedang iseng ular itu akan menancapkan gigi tajamnya mengalirkan bisanya masuk ke aliran darah dan seketika aku mati. Itu pasti mimpi menjadi nyata. Pikiranku jadi semakin sulit melupakan ratusan mimpi buruk tentang dipatok ular, dililit ular, dikagetin ular, dikejar ular, dimakan ular.

Pulang. Mundur. Lari sejauh mungkin. Tinggalkan tempat paling menakutkan ini. Jangan menoleh ke belakang. Lari selagi aku bisa. Lari selagi aku belum menangis ketakutan. Lari sebelum aura ketakutan ini membuat polusi udara dimana-mana, mereka yang paling aku takuti akan merasakan. Entah aku pernah mendengar atau membaca atau mungkin juga bermimpi, mereka hewan-hewan melata menggelikan yang mampu membuat bulu kudukku berdiri lebih tinggi daripada ketika aku berkunjung tengah malam di kuburan keramat malam 1 suro, mereka mampu merasakan aura ketakutan musuh terbesarnya lalu menyerang. Tidak, aku harus lari. Sejauh mungkin.

Aku kalau minum air rebusan daun mengkudu itu pasti cepet sembuh.

Aku berjongkok, mengutuki diriku sendiri. Cinta itu luar biasa. Dan Ketidakmampuan ini masih membekukan seluruh tubuhku. Takut melangkah enggan mundur. Dan langit awannya muram abu-abu kelam. Romansa antara aku dan pohon mengkudu itu dihancurkan oleh ilalang.

Bismillah. Selangkah. Dua langkah. Keringatku seperti hujan salju lokal dikulitku. Tiga langkah. Empat langkah. Aku mulai menangis. Mulai berdoa memohon pertolongan dalam hati. Melafalkan ayat kursyi. Berlari secepatnya dan menutup mata. Seperti kesetanan menyibak rimbunan ilalang. Semoga kalajengking itu sendirian dan langsung mati terinjak kakiku, semoga laba-laba itu tidak sedang melihatku tapi sedang tidur sore bermimpi tentang kekasihnya sehingga dia tak peduli padaku. Semoga ular-ular itu sedang kenyang atau gigi mereka ompong atau mereka terlalu kecil hingga di larang orang tuanya maen jauh-jauh dari sarangnya. Semoga aku selamat.
Sampai dan nafasku terenggah-enggah. Adrenalin mengalir deras, dan aku tak mau berlama-lama. Aku tidak ingin berpikir lagi.

Membabi buta mengambil pucuk-pucuk daunnya. Aku tidak pernah menduga banyak kumbang. Ada sarang mereka diatas sana. SEMPURNA. Dan lari kembali melewati jalan yang sama tadi.

Sambil berlari aku mengacungkan jari tengah kepada kalajengking, laba-laba, ular dan binatang-binatang melata lainnya.

Aku tertawa dan aku menang.