Dear Bulan,
Aku membayangkan, sekarang aku duduk diatas genteng rumahku. Seperti waktu masih jadi penghuni asrama 111 dulu. Persis saat purnama nyaris penuh di langit. Terang dan hening. Bercinta dengan bulan.
Aku sudah menemukan jawabannya, aku dan bulan kemarin sama-sama perih.
Bulan, seandainya dan yaa memang seandainya aku kembali ke suatu masa. Aku ingin kembali pada masa sebelum aku menaiki sepeda “federal”ku atau sebelum aku menyadari kamera pocketku raib oleh teman kecilku. Mungkin aku bisa membuat sebuah album kenangan tentangmu. Mungkin aku akan mengabadikan setiap purnamamu.
Dan mungkin aku akan membuat sebuah pesta kecil saat ulang tahunmu sebelum akhirnya aku memutuskan berhenti mencintaimu dan meyerahkan pada matahari. Lalu kamu akan mengerti bahwa album kenangan tiap purnamamu memiliki seluruh semestaku. lalu aku mulai bercerita dari awal purnamamu, setiap momen romantis antara kita. Saat aku berjuang untukmu, diam dalam pengetahuanku.
Mengetahui, mencari, menunggu, menggoda, memiliki, memilih, mengorbankan, menikmati, merasakan, menangis, menertawakan dan semua itu untuk satu…yaitu MENCINTAI.
Dan kemudian dengan sedikit sisa krim kue di pipimu, kamu akan berterima kasih untuk cintaku. Tapi sayangku bulan,… kamu baru membuka separuh album kenanganmu. Kamu akan terperanjat, akan salah tingkah, akan berusaha memberikan penjelasan. Bahwa aku tak lagi memiliki purnamamu sekian lama. Bahwa aku telah tergantikan.
Bulan, kamu akan tahu mengapa aku sudah cukup mencintai. Dan aku telah menyiapkan semua ini karena aku tahu. Karena takdir tak bisa dilawan.
Sekeras apapun aku berusaha merubah jalan hidupku, memperbaiki kesalahan masa laluku, menjadi air untukmu. Takdir yang tertulis tidak bisa ku rubah. Purnamamu untukku punya batas waktu. Dan mungkin saat itu pilihanku bukan seperti pilihanku saat ini. Aku akan menyerah….
Bre,
