Seharusnya aku tau, dan aku memang sudah tau. Bahwa janji itu hanya bias dibibir. Semu dan tanpa kepastian. Selalu ternoda.
Gelas yang sudah pecah tak akan sama lagi saat dicoba untuk disatukan.
————————
Aku bosan mengeluh. Aku bosan menangis. Dan waktu terus berbunyi tik..tok..tik..tok percaya deh dan, aku nanti matinya karena gagang sapu.
“kita besok pagi ke atap yuk. Sapalah matahari, pasti dia akan membantumu tersenyum”
Ini sudah melewati masa percobaan, kisah romantisme telah usai dan aku semakin termangu. Oh, aku tidak menyadari aku sudah berjalan sejauh ini. Masih memutar.
Dani menepuk tanganku, dan aku tersadar. Matanya nanar menatapku, sudah 4hari aku terbaring tanpa daya diatas pembaringan. Menunggu ajal.
“berhentilah menangis, kamu membuat aku ketakutan”
Aku juga sedang berjuang dan, dan aku sudah tidak sekuat dulu. Dulu aku bisa tahan rasa sakit seperti apapun, tapi sekarang.. Aku tidak semakin kebal atau terbiasa, tapi malah semakin rapuh. Dan aku benci menjadi lemah seperti ini.
Dani malah memelukku, “jangan mati, aku masih ingin hidup”
Aku melirik untaian-untaian selang yang masuk ke tubuhku. Ini semua hanya soal waktu.






