
Pulang ke rumah adalah hal yang paling menyenangkan. Setahun sekali aku hanya bisa melakukannya. Dan tentu saja kerinduan ini sudah menumpuk ketika aku menjejakkan kakiku di halaman rumah. Aroma rumah. Tidak pernah berubah dari dulu.
Sambutan tentu saja luar biasa hangat. Berpelukan, saling mencium, dikelilingi keponakan-keponakan. Bercerita tentang apa saja, menanyakan kabar siapa saja. Menikmati lagi masakan rumah. Luar biasa menakjubkan.
Bulan diam. Matahari tertawa. Bintang menyapa. Dan aku asyik bercengkrama dengan angin.
Di rumah, aku memiliki beberapa tanaman kesayangan. Selama setahun keluargaku yang merawat mereka. Memberikan kasih sayang, memberikan kebutuhannya yang tidak bisa kuberikan. Segala kebutuhan mereka dipenuhi.
“mbak, tanaman yang disana udah banyak anakannya” adikku menceritakan sebuah tanaman.
“besok kita pindahin ke potnya yang baru. Tadi aku udah belanja pot.”
Siip, biar besok aku aja yang ngerjain. Sekalian nanti kita ganti medianya semua.
“kemaren ada tetangga yang minta salah satu anakannya mbak, dikasih ga?”
kasih aja yang sudah berdaun dua helai. Kasian kalau yang cuma sehelai, dia masih terlalu muda. Mereka nantinya akan membutuhkan banyak sinar.
Tiba-tiba angin membisikkan pesan dari jauh. AKU TIDAK AKAN MEMBERIKAN SINARKU.
Wajahku memerah seketika, panas telingaku mendengar kalimat pendek itu. Seolah berkilat, mataku mulai panas dan berair. Aku mengepalkan tanganku. Tanpa menunggu lagi, aku berdiri dan menatap jauh ke atas.
KAMI SAMA SEKALI TIDAK BUTUH SINARMU UNTUK HIDUP. DAN KAMI TIDAK PERNAH MEMINTA. KAMU YANG SELALU MENJANJIKAN SINARMU PADA KAMI.
Seminggu aku enggan menemui bulan. Aku sakit hati.