
menutup hati. Lelah. Cuma sakit. Tetep sendiri.
[di suatu tempat]
Waktu itu sebelum matahari mengintip dari balik tirai, mengendap dalam gelap. Tanpa kata, tanpa bicara.
Dan aku ga ingin mengenangmu lagi. Pengen ngelupain kamu. Ingin memutar kembali waktu, semoga matahari terbit lebih cepat.
[sebelumnya]
Mata kami berpapasan, kami berjabat. Yang aku rasakan jelas berbeda seperti yang dia rasakan. jangan lagi. Dia bercerita dan aku mendengar sembari sibuk dengan gejet ditangan. Aku mendengar sebuah #kode atau aku yang terlalu pede itu sebuah #superkode. Aku nyengir, aku tinggal menunggu. aku ga mau nunggu bahkan tidak ingin tau.
Aku lupa sebelum akhirnya aku mendapat pesannya. tidak. cukup. this game is over. Save me my lord!!
[jauh sebelumnya]
Sometimes, you just have to admit you were wrong.
(Gabe Bondoc)
Dan, ak benci dibohongi. Bulan mencoba berbohong, dan aku menjadi galau.
“something happen darling?”
Aku hanya mampu mengangkat bahu dan kembali bersandar padanya. Kaos biru lautnya bertuliskan bite me!, dan tubuhnya sangat beraroma pria. Bagian kerah hingga dadanya sudah basah oleh airmata dan dan ingusku. Lengket.
“see? Kamu bikin aku harus mandi lagi. Itu ingus kenapa mendadak banjir sih?”
Ok, laki-laki ini membuatku tergelak dengan candaan yang canggung. Dia tau aku sedang tidak ingin becanda, tapi dia tetap mencoba. Aku tau dia selalu bisa diandalkan kapan saja.
I just tried to see the bright side. and believe me, I mean it a try.
“let it go. Believe me honey, jealous just a feeling that too much to love yourself. You better than that”
aku tau, itulah kenapa aku cerita sama kamu.
“lebih baik sekarang?”
sedikit. Anyway, menurut mu apakah bintang mencintaiku. Kamu tau, ak takut aku hanya ‘merasa’ dicintai.
“Dan apakah itu penting buatmu?”
Ketika tangan bersambut itu jelas menjadi sangat indah. But, aku rasa bukan hal penting. Aku cukup mencintai dia dengan seperti ini.
Ahh, aku terlalu lebay menguraikan galau.
“betulll, kamu memang ratu lebay.”
Kami berciuman hangat.
Aku terlambat bangun pagi ini. Tak sempat menyapa matahari. Air kran dingin sekali, water heater sedang bermasalah 2 minggu ini. Semoga aku tidak segera di dera penyakit rematik secepatnya. Dinginnya benar-benar menusuk tulang-tulangku. Tapi aku harus berangkat sekarang, meskipun hari ini libur. Tapi Dani sudah berjanji mengajakku ke pasar barang antik di Jl. Surabaya. Tentu saja ini di jakarta, bukan surabaya. Aku tersenyum sendiri.
“bre, cepetan dong. Kalo mo dapet harga pagi mesti buru-buru. Lagian tumben lo pake acara kesiangan”
Semalaman aku bercinta dengan bulan. Kami ngobrol sampai aku lupa kapan aku tertidur. Aku memandang pipiku yang memerah di cermin. Buru-buru ak semprotkan parfum di tubuhku untuk mengakhiri ritual berdandanku. Aku masih belum bisa menyembunyikan senyumku setiap mengingat percintaanku semalam. Bulan benar-benar memanjakanku.
“hahahaha pantes aja. Sudah buruan jemput gw, nyaris lumutan gw disinii!!”
Segera!!
Sewaktu aku berbelok di tikungan dekat rumahku aku melihat dua gadis berambut panjang dan pendek itu. Aku melambaikan tanganku sembari ku buka kaca jendela mobilku.
mau kemana kalian?
“eh kakak, kok kalian sih. Dari tadi aku sendiri lho.”
sorry kakak cuma menggoda kamu. Mau kemana? Bareng yuk.
“makasih kak. Aku tinggal nunggu taxinya nyampe kok. Mau ke bekasi”
ok deh kalo gitu, kakak duluan yah
Selama perjalanan menuju jalan surabaya aku menceritakan kisah dua gadis itu kepada Dani. Aku menertawakan diriku sendiri bagaimana imajinasiku nyaris porak poranda karena sebuah ide tentang hantu. Bagaimana mungkin aku bisa melihat hantu yang sedang berbicara dengan seseorang.
lalu siapa satu yang lain?
“gadis yang sama. Kamu sedang mendengarkan dia berbicara dengan dirinya sendiri. Imajinasimu sepertinya agak lebay.” Dani tergelak menertawakanku.
2 jam lebih kami mengelilingi pasar sekedar melihat-lihat. Dani membawa kamera andalannya, asyik menjepret tanpa menyadari terkadang dia kehilangan aku yang masuk ke toko lampu antik. Jika sudah begitu dia panik, menjengkelkan.
Aku pulang membawa 2 buah barang, lampu dan sebuah tembikar. Untuk di balkon.
Nyaris siang, dan aku kelaparan. Sedari tadi hanya teh botol yang masuk ke perutku. Kami mencari tempat makan disekitar situ. Dan menemukan sebuah rumah makan sederhana.
“saat ini dimana tempat yang paling ingin kamu datangi bre?”
Jogja.
“kenapa?”
Ada sebuah bintang yang hanya bisa dilihat dari bawah langit jogja. Bintang yang akan memberikan perlindungan untukku. Bintang yang cahayanya memberikan kenyamanan.
“kalo begitu, kita kesana minggu depan.”
Hmmmm.. Tidak bisa.
“kenapa? Karena bulan tak menginginkamu ada disana?”
Bukan. Karena aku telah mengecewakan bintang itu. Kami dulu pernah saling mengisi malam-malam kami bersama. Hingga aku diam dan menyerahkan jiwaku pada bulan.
“kamu jatuh cinta?”
Entahlah, dia teramat istimewa. Kami pernah mengalami masa-masa indah. Dan aku meninggalkan dia. Yah, aku mencintainya. Matahari selalu memberikan kabar tentangnya. Aku senang, dan itu cukup.
“mungkin nanti, kamu pasti bisa menikmati sinarnya”
aku tidak pernah berhenti berharap hari itu datang. Dan, dia memiliki tempat istimewa di hatiku. Bintang itu salah satu kepingan indah dalam kehidupanku.
“ayo pulang.”
Suatu pagi dani menanyakan suatu hal yang tidak terduga. Pagi itu hujan, kami memandang matahari dari balik jendela yang basah. Jarak 15 km dari tempat kami masing-masing berada terasa dekat ditelinga. Sudah 20 menit berlalu semenjak kami bersama menyapa matahari.
“lo udah pernah ke lantai 6? Disana katanya ada coffe shop enak.”
aku menggeleng. Tidak.
“besok gw jemput lo dibawah, kita kesana ok?”
Lagi-lagi aku menggeleng. Lain kali saja.
“ok, gw mulai curiga. Lo kenapa sih, ga pernah mau pergi dari lantai 8? ”
Aku mulai menundukkan kepala, bulir airmata mulai menuruni ujung mataku. Aku menghela nafas panjang. Tidak ada apa-apa, semua baik-baik kok.
“jangan bohong”
sudahlah. Seperti sekarang saja sudah cukup berlebihan untukku.
“kapan terakhir lo hidup?”
Aku terbahak-bahak. Dani berpikir mungkin aku sudah mati. Nyaris dan, jika aku tidak berkenalan matahari mungkin aku sudah mati.
matahari sudah membuatku cukup hidup. Aku tidak mungkin lebih mengkhianati bulan lagi.
Dani terdiam agak lama sebelum akhirnya dia menghela nafasnya. “lo terperangkap dalam kurungan sinar emasnya”
aku bukan terperangkap. Aku telah menyerahkan jiwaku untuk melayani bulan.
“lalu? Apa masalahmu?”
Banyak. Banyak. Banyak.
aku hanya bisa mendatangi tempat-tempat dimana dia menginginkan aku dimana.
“besok gw bakal menyeret kaki lo keluar!! Lo ingat itu, lo mesti gw paksa”
Dani sayang, aku juga ingin melihat sungai diujung kota ini. Menghitung setiap ikan yang melewati jari kakiku. Aku bahkan sering bermimpi berkemah di hutan. Di bawah sinarnya dalam kehangatan api unggun. Beberapa kali aku mendengar cerita dari teman-temanku jika di sebelah utara pinggiran hutan sana ada sebuah padang rumput, tempat paling sempurna melihat pelangi.
Tolong paksa aku mendatangi mereka, aku ingin lebih hidup lagi.