Friends

Tentang sebuah Pertunjukan

Suatu hari saya datang di sekumpulan orang.  Mereka asyik berbincang, tentang macam-macam cerita.  Ada tentang sapi, kambing, ayam, bebek sampe monyet. Mereka mengaku Enterpreneur. Dari segala lapisan. Belakangan saya tau tak semua enterpreneur, beberapa mencari kesempatan.

Si pak Joko mengajak teman-temannya datang ke rumah untuk membahas makanan apa yang paling pas untuk 250 ekor sapinya sekaligus berbagi. Bahkan rencananya dia sampai membuat Kontes Semi  SEO dan lomba live twit di acara yang didatangi oleh macam-macam peternak sapi sekabupaten.  Pemenangnya akan mendapat seekor sapi. Ada dangdutan tentu saja, supaya membumi katanya Pak Joko. Modal 5 ekor sapi, keuntungannya 50 ekor sapi.  Pak joko berbisik padaku. AKu tersenyum (miris).

Lalu ada pak Udin, berkoar-koar laksana pemimpin orasi di bundaran HI. Setelah semakin malam suaranya hilang terlalu banyak bicara.  Sibuk mempengaruhi orang, bahwa pasar hewan tidak boleh melulu di dominasi sapi, kambing, ayam dan bebek. Ikan harus bisa dijual disana. Ikan juga hewan, ikan punya hak yang sama dengan kambing atau sapi.  Dan orang-orang tertawa. Masa bodoh pada mulutnya yang berbusa.  Seseorang menimpali seusainya dia berorasi.  ”masbro, dah pernah ke pasar ikan belom?” Sontak pak UDin meringis. lalu pamit pulang. Dan menggerutu, ah..lagi-lagi salah tempat, salah audiens.

Mereka sudah hiruk pikuk dalam lingkaran-lingkaran sendiri, yang ingin belajar menclok dari satu lingkaran ke lingkaran lain. Membaur. Yang saklek dengan idealismenya, anteng di satu lingkaran. Yang merasa piaraannya paling menguntungkan tidak akan mau menegur mereka yang dilingkaran pesaing.  Dan ada media lokal tentu saja, sedikit menggosok berita dan lalu sedikit bumbu rumor.

Saya mengenali mereka, nama-nama mereka pak Joko, pak Udin,  pak Asep, dan banyak lagi nama-nama familiar. Saya menyapa mereka satu-persatu di setiap lingkaran berbeda. Menyalami, dan dibalas sapaan sambil lalu. Mereka mengenali saya, dan sambil lalu.  Saya terlambat datang, tidak terlalu mengerti sampai dimana perbincangan mereka. Dan masih, dan masih seperti dulu setiap saya ada diantara mereka, saya enggan ikut. Saya cukup menonton dan mendengar. Saya belajar karakter mereka dan menyimpulkan lalu saya catat di hati.

Saya yakin saat pertunjukan ini selesai, mereka tidak tau sejak kapan dan sampai mana saya mengikuti cerita mereka. Menikmati pertunjukan sebagai penonton sungguh lebih nikmat daripada menjadi pelakon. Tak perlu memakai topeng dan kostum. Meskipun untuk menonton pertunjukan ini saya mesti membayar tiket, tapi sebanding lah dengan pelajaran yang saya serap.  Sesekali saya menengok kondisi dibelakang panggung, mereka yang berkostum indah ini ternyata dibaliknya hanya mengenakan kaos dalam kusam berlubang.  Tapi beberapa rumor yang saya dengar, si pemeran paling nelangsa itu yang punya kartu kredit “ngrentengi”.

Bravo…bravo…bravoo…

Dan semua yang mengaku penonton di pertunjukan ini berdiri. Standing Ovation. Entah benar tulus atau mereka #penontonberbayar. Ah saya bukan penonton, saya pengamat. Hahahahaha

Tentang Pembohong

Depok, 8 November 2011

Diluar hujan, celotehan anak-anak operator bordir masih sehangat pagi tadi. Masih riuh menggoda salah satunya yang agak kebanci-bancian.  Bukan banci sebenarnya, tapi dia yang selalu menjadi bahan ledekan teman-temannya. Dia yang biasanya selalu aku mintain tolong beli gorengan di depan Sd negeri sana. Anaknya jujur,  itu yang aku puji dari sosoknya. Meskipun pendidikannya cuma tamatan SD, tapi dia lebih jujur dari beberapa orang yang mengaku kuliah hingga S2.

Lalu siapa yang belum pernah berbohong? aku pernah, sering.  Jangan tertawa, atau kamu merasa dibohongi.  Aku bohong kalo aku ga pernah bohong.  Yang sekarang ada adalah saya berusaha lebih jujur aja. :)

Kemarin, aku sempet menemukan seorang pembohong kelas teri. Bahkan bukan cuma dia, tipe seperti dia beberapa aku temui. Pembohong satu ini tipikal pembohong yang berbohong untuk  menutupi ketidakmampuannya. Misal, dia pamer harta melimpah, kesuksesannya, hasil kerja kerasnya, relasi-relasi hebatnya. Dia mencari pencitraan dimana saja, berusaha meyakinkan semua orang yg ditemui bahwa dia sukses, dia memiliki segalanya.  Tapi dia lebih bodoh dari seekor keledai. Ga ngerti untuk apa dia membuat pencitraan sedemikian rupa di depan aku. Mengambil simpatiku? atau ada modus…?

“bre,  tar tolong bikinin aku web ya, tar aku kasih data2nya, bikin profil company perusahan2ku..”

Stupid, bego, atau tolol orang ini. Dia mencitrakan bahwa dia punya perusahaan multinasional, dengan proyek-proyek besar. Tapi ga punya Web sendiri, ga mampu bayar Web Develop sendiri. Malah nyuruh aku, nyari gratisan? secara aku aja ga jago.  Atau dia ingin membuat penguatan pencitraan untuk orang banyak bahwa dia punya perusahaan besar yang ternyata ga lebih hanya sebuah ruko 2 lantai. (itupun sewa per 2thn).

Aku malah kasian dengan hidupnya, tipu sana-sini, ngomong sana-sini. Isinya ga lebih dari tong kosong. Wujud dari omongan dia sama sekali ga terbukti. Parah, mati hati manusia seperti ini. Jadi mending jauhin dan blacklist manusia semacam ini. Setuju??

Hari ini,

Aku tau dia bukan pembohong. Dia hanya sedikit berbohong. Dan apapun alasannya, itu “white Lie”.  Kebohongannya hanya untuk kebaikan. Aku masih percaya dia melakukan itu bukan karena dia pengen bikin pencitraan atau emang suka ngebohong.  Semua karena dia punya alasan. Dan aku punya batasan sampai sejauh mana aku berhak tau. Karena yang dia katakan ga lagi menyangkut kehidupan dia sendiri.

Meskipun sebenarnya aku masih lebih percaya kata-kata dia “kapan sih bre gw bisa bohong sama lo?” at least kenapa dia menutupi semuanya itu aku paham.  Aku pasti akan tanya macam-macam soal itu. dan.. ya sudahlah.

Jadi bingung mana yang bener,  dia real atau fake. Bagiku, yang terpenting dia baik-baik saja dan dia bisa bahagia. Dan semoga, nanti aku bisa bertemu kalian berdua dengan 2 wujud manusia berbeda, di pernikahannya.  April 2012.

Hujan berhenti waktunya pulang… Semoga November yang sejuk ini berhenti meranggas. :)